Subscribe RSS
Perkembangan Organisasi Budi Utomo Dec 09

Organisasi Budi Utomo merupakan pelopor berdirinya organisasi-organisasi pada masa pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi pemuda ini didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Soetomo dan kawan-kawannya yang berasal dari mahasiswa STOVIA (sekolah dokter pribumi di Batavia).

Berdirinya Organisasi Budi Utomo menandai perkembangan baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada awalnya, keanggotaan BU hanya terbatas pada golongan elit Jawa, terdiri dari kaum terpelajar dan para pegawai Hindia Belanda.

Pembatasan keanggotaan ini dibatasi karena perasaan takut mendapat saingan dari golongan rakyat jelata (Moejdanto, 1988:28). Namun pembatasan ini dihilangkan pada tahun 1927, sebab mendapat pengaruh dari pergerakan lain yang telah bermunculan.

Perkembangan Organisasi BU

Pada awalnya pergerakan organisasi pemuda ini bersifat kedaerahan, namun kemudian pada perkembangan selanjutnya istilah “nasional Indonesia” mulai muncul. Nama “Indonesia” dalam kancah perjuangan baru muncul pada tahun 1922, setelah dari tahun sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan India. (Sumber Sejarah).

Berikut ini perkembangan organisasi BU dari tahun ke tahun :

  1. 1916 : Organisasi ini menjadi anggota Komite pertahanan India yang memperjuangkan milisi bagi pemuda Indonesia.
  2. 1918 : BU mengirimkan wakilnya ke Volksraad.
  3. 1918 : BU menjadi anggota Konsentrasi Radikal.
  4. 1927 : Organisasi ini menjadi anggota PPPKI yang kemudian terpengaruh sifat kolonialismenya.
  5. 1931 : Diadakannya kongres BU di Jakarta, salah satu keputusannya yaitu organisasi ini terbuka bagi seluruh bangsa Indonesia.
  6. 1932 : Kongres BU di Sala menetapkan tujuan secara jelas, yaitu kemerdekaan Indonesia.
  7. 1935 : BU bersama dengan beberapa perkumpulan pemuda mengadakan fusi dan membentuk sebuah wadah yang lebih besar, yaitu Partai Indonesia Raya (Parinda).

Organisasi Budi Utomo mengalami perkembangan yang sangat signifikan saat dipimpin oleh Pangeran Noto Dirjo. Beliau mewujudkan kata “politik” dalam tindakan yang nyata. Istilah “Tanah Air Indonesia” kemudian semakin diterima di kalangan masyarakat, terutama orang Jawa.

Sumber Referensi :

    • Drs. Moedjanto, M.A. 1988. Indonesia Abad ke 20-1 (Dari Kebangkitan Nasional Sampai Linggarjati). Yogyakarta : Kanisius.
Category: Sejarah
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

One Response

  1. I do love the manner in which you have framed this particular concern and it does offer us some fodder for thought. On the other hand, through what I have observed, I simply just trust as other reviews stack on that folks continue to be on issue and don’t embark upon a tirade regarding some other news of the day. Yet, thank you for this excellent piece and whilst I do not agree with this in totality, I regard the viewpoint.