Subscribe RSS

Tag-Archive for "sejarah"

Kategorisasai Eropa Menurut Orang Asia Tenggara Awal Mar 26

A.Kategori Pembedaan

Secara geografis, India diidentifikasikan diri sebagai tanah “ di bawah angin”. Sedangkan negeri di bagian barat (Eropa) disebut tanah “ di atas angin “. Orang-orang Eropa, seperti Spanyol dianggap bagian dari dunia “di atas angin”, karena merupakan tempat asal-usul agama Hindu, Budha, islam dan simbol-simbol yang dikaitkan dengan kebesaran Alexander Agung dan kekaisaran “Rum”. Secara geogafis kategori “di bawah angin” mencakup Asia Tenggara. Acuan-acuan didasarkan atas kesamaan perniagaan, kosmopolitanisme dan kemakmuuran.
https://layla.mypage.cz/

Ma Huan, membedakan jenis orang di Jawa pada awal abad ke-15 menjadi tiga. Yaitu Orang-orang yang bersih dan beradab, penduduk asli pedalaman, dan Chou Ta-Kuan. Orang-orang yang bersih dan beradab merupakan orang cina yang bermukim sementara maupun para saudagar muslim yang menetap secara permanen. Penduduk asli pedalaman adalah orang-orang jorok, pemuja setan, dan menyantap makanan kotor. Sedangkan Chou Ta-Kuan menggambarkan jurang pemisah antara suku beradab dataran Khamer dan budak yang mereka ambil dari daerah pegunungan.
https://www.ebnonline.com/profile.asp?piddl_userid=841318

B.Kontak-kontak pertama : “Orang Benggala Putih” dan “ Kepala Besi

1.Asia Tenggara mempunyai jalur pelayaran yang sangat luas, hal itu dimanfaatkan oleh para saudagar untuk melakukan perdagangan di kawasan tersebut. Para saudagar di sambut baik, misalnya saja :
1.Memperbolehkan saudagar asing membangun rumah sementara di kawasan Asia Tenggara.
2.Para saudagar boleh mendapatkan istri sementara.
3.Mendapatkan kebebasan berbaur di pasar.

Dalam awal kontak dengan Portugis, orang Portugis dapat mempelajari bahasa dan kebudayaan Asia. Sebaliknya masyarakat lokal bisa menjinakan para pendatang baru dan mempelajari bahasa mereka. Hal ini dibuktikan pada tahun 1511, Serrao dilaporkan bahwa dia telah meninggalkan dua orang anak dari seorang perempuan yang di kawini di Jawa. Selain itu dilaporkkan pula, Lopes de Sequiera selamat dari serangan orang Melayu berkat peringatan seorang perempuan Jawa. Berdasarkan paparan di atas, dampak dari pertemuan awal tersebut tampaknya lebih banyak dirasakan oleh orang Eropa.
https://forum.zenstudios.com/member.php?2546028-sumber1

Orang-orang Eropa yang mencapai kawasan Asia Tenggara sebelum Vasco de Gama, seperti Yahudi atau orang—orang Persia. Nicolo Conti misalnya. Saudagar muda ini mengadu nasib bersama beberapa para saudagar Persia. Dia berlayar bersama mereka ke India dan akhirnya ke Asia Tenggara pada tahun 1430-an. Menjelang pergantian abad, awal kontak dengan Eropa dibuka dengan penyelamatan Hieronomo di Santo Stefano dari Genoa bersama kafilah Arab dari musibah saat berlayar menuju India dan Sumatera oleh Kadi Muslim dari Pasai (Sumatera).
https://www.docracy.com/userprofile/show?userId=2t98hf7e9o

C.Polarisasi

Penyebab polarisasi agama antara islam dengan musuh-musuhnya di Asia Tenggara :
A.Kontra-Reformasi Katolik.
B.Kedatangan Francis Xaverius dan pengikut ordo Jesuit pada 1542.
C.Kebangkitan Turki sebagai suatu kekuatan Islam yang besar.

Konflik Muslim-Kristen mempengaruhi sebagian besar kawasan pada periode ini. Seorang misionaris Franciskan, dibunuh oleh sekelompok Muslim miltan di Brunai. Sementara misionaris Dominikan pertama yang tiba di Siam diserang oleh gerombolan Muslim. Dibeberapa kota besar Islam. Misalnya Aceh, Banten, Brunai, orang-orang Eropa yang melanggar hukum atau menyinggung perasaan penguasa diberi pilihan untuk masuk islam atau menerima hukuman mati. Misionaris Khatolik dan meluas sampai orang Eropa umumnya dipandang oleh saudagar Muslim kota sebagai musuh bebuyutan Islam.
http://www.divephotoguide.com/user/sumber1

D.Persaingan

Perpindahan agama dalam jangka waktu cukup singkat (1570-1650) ke agama Kristen dari mayoritas penduduk dataran rendah Filipina dan sebagian besar orang Maluku dan Vietnam adalah bukti respons positif pada aras massa. Masalah itu disinggung dalam buku catalog dari Tomas Pinpin, dimana Tomas merasa yakin bahwa orang-orang di negerinya (Filipina) ingin sekali menyaingi orang Spanyol. Analisis menarik dikemukakan oleh Vicente Rafael. Dia telah memperlihatkan bahwa Pinpin dan pembacanya menganggap bahwa bahasa Spanyol sebagai sumber perlindungan dari sistem hierarki yang hendak diterapkan Spanyol. Namun, teks Pinpin merupakan satu-satunya naskah tertulis Asia Tenggara yang tersisa periode awal, yang menegaskan bahwa orang Eropa telah memperkenalkan sesuatu yang penting.
http://www.divephotoguide.com/user/sumber1

E.Menjelaskan Kekuatan Eropa

Eropa merupakan pakarnya persenjataan. Mereka unggul dalam persenjataan dibanding dengan Asia Tenggara. Dalam sumber-sumber Asia Tenggara menolak mengkaitkan kekalahan mereka dengan mutu teknologi yang rendah. Diduga kekalahan Asia Tenggara ini dikarenakan karena Asia Tenggara masih percaya akan kekuatan alam spiritual dibandingkan dengan teknologi. Namun, begitu kekuatan Eropa tumbuh dan ingatan tentang asal-usulnya memudar, cerita yang dikembangkan untuk menjelaskannya makin lama makin simbolik.

Belanda memiliki kekuatan militer yang melebihi dari kekuatan orang-orang Liberia pendahulu mereka. Orang Belanda gemar akan berdagang dan dunia mistik. Dalam berdagang, orang Belanda memanfaatkan kekuatan mereka untuk perhitungan dagang yang matang. Jika bukan karena urusan berunding, mereka mendorong penguasa-penguasa Asia Tenggara untuk mundur dari urusan-urusan ekonomi dan militer kemudian beralih ke urusan spiritual dan simbolik. Hal ini dianggap Karena mereka tidak akan bisa bersaing dengan ambisi Belanda.
http://www.divephotoguide.com/user/sumber1

Menurut cerita, Baron Sukmul dan Coen membawa kekuasaan raja ke Batavia untuk mengklaim warisan Pajajaran. Bukan kekuatan senjata yang memberi kemenangan kepada mereka, tapi muslihat jitu dengan menembakkan kepingan logam dari laras meriam . Dia terbang ke angkasa untuk melihat kekayaan alam tanah Jawa. Di Jawa nampaknya meraka menemukan lawan setanding. Kemampuan terbang mereka ditangkal oleh sejumlah kekuatan yang lebih dahsyat. Hingga akhirnya orang-orang Asia Tenggara bisa melihat hikmah di balik kekuatan itu sebagai sumber harapan baru yang besar.
http://www.divephotoguide.com/user/sumber1

Perbudakan dan Perhambaan dalam Sejarah Asia Tenggara

Menurut H.J. Nieboer, budak merupakan seseorang yang menjadi hak milik pribadi orang lain yang secara politik dan sosial berada ditingkatan lebih rendah dibanding kebanyakan orang dan melaksanakan kerja wajib. Hal ini ditegaskan oleh Watson. Watson berpendapat bahwa manusia sebagai harta-milik dan kerja wajib sebagai inti dari setiap definisi universal tentang perbudakan. Batasan dalam penggunaan istilah perbudakan memang sulit ditentukan. Penyebab dari kesulitan itu adalah fungsi, bentuk, dan asosiasi yang timbul dari istilah ini.

Pada sumber-sumber Alkitab, suatu pola perbudakan keluarga Ibrani yang sangat dekat dengan pola di sebagian besar masyarakat Asia Tenggara zaman modern akan kita temukan. Berbagai jenis perhambaan diistilahkan dengan kata ‘ebed, mencakup perhambaan Israel di Mesir dan perhambaan Israel atau individu-individu kepada Tuhan, serta gambaran keluarga patriarkal dimana budak laki-laki dan perempuan menjadi bagian dari rumah tangga yang dibeli pada masa kecukupan dan dijual pada masa susah .
http://kbforum.dragondoor.com/members/sumber1.html

Di Mesir, menzinai perempuan merdeka akan dihukum mati, tapi berzina dengan perempuan budak cukup dikenakan denda membayar seekor domba jantan dan dicambuknya budak itu. Namun, di Afrika dan beberapa bagian Asia Tenggara, suatu keluarga sulit ditentukan karena lelaki yang jelas-jelas menjual anak perempuan dan membeli istri juga disebut ‘ebed. Tetapi pengalaman penghambaan di Mesir disussul penaklukan kanaan yang menghasilkan pencelaan terang-terangan terhadap penghambaan anak-anak Israel yang dominan.

Proses evolusi dari budak menjadi hamba-sahaya pada zaman akhir kekaisaran Romawi tentu amat kompleks. Hukum Yunani dan Romawi pada akhirnya memberi definisi status budak dan orang merdeka dengan batasan lebih ketat. Namun, kata doulos dalam bahasa Yunani dan servus dalam bahasa Latin tetap dipakai sebagai istilah-istilah netral secara moral untuk menyebut berbagai jenis perhambaan.
https://www.flicks.co.nz/member/sumber1/

Menurut Plato, perbudakan merupakan hasil pertumbuhan alamiah sempurna dari heararki keluarga patriarki, dan para penulis naskah Kristen Yunani dan Latin tidak merasa keberatan menganggap orang yang berbudi sebagai hamba Tuhan. Kita dapat menyimpulkan dari literatur tiga faktor penting yang muncul dalam pengkisian perbudakan di Asia Tenggara pada abad ke-17 dan ke-18. Ketiga faktor tersebut adalah kemiskinan, pertumbuhan kekuasaan Negara, dan agama semesta

A.Hierarki di Asia Tenggara

Pada dasarnya masyarakat tersusun secara hierarkis, seperti keluarga, sehingga kenyamanan dan keakraban dapat dicapai jika seseorang menyebut lawan bicara sebagai saudara, ayah, kakek dll.
https://www.gta5-mods.com/users/sumber1

Sehingga tumbuh hubungan-hubungan horisontal yang lebih baik. Penggunaan kata ganti orang pertama yang paling sering dipakai adalah kata-kata yang umum digunakan dalam setiap bahasa untuk menyebut budak atau hamba-sahaya (bondman), yaitu saya dalam bahasa Melayu/Indonesia, kha dalam bahasa Thai, dan khnjom dalam bahasa Khmer. Pola linguistik yang mencolok ini menunjukan bahwa ikatan vertikal merupakan inti dari kebanyakan sistem sosial di Asia Tenggara. Bahkan sampai sekarang pola itu tetap digarisbawahi oleh para antropolog sebagai ciri dari masyarakat yang mereka pahami.

B.Utang dan Kewajiban

Dari zaman sangat kuno sampai sekarang masih ada orang yang bekerja untuk orang lain. Hal ini karena meyakini suatu kewajiban, bukan demi mendapatkan upah dari pekerjaan. itu. Biasanya orang-orang yang terikat utang bisa dipersembahkan sebagai hadiah perkawinan, diserahkan sebagai jaminan hutang atau bahkan dijual. Namun, jika utang tidak dapat dibayar, pihak penerima utang harus diserahkan untuk menjadi hamba pihak pemberi utang. Banyak laporan yang membeberkan alasan umum mengapa si miskin terlibat utang adalah karena kebutuhan ritual. Seperti halnya untuk pembayaran mas kawin pernikahan atau penyembelihan kerbau saat meninggalnya seorang anggota keluarga.
http://ttlink.com/sumbersejarah

Berbagai kebudayaan Asia Tenggara makin memperjelas hubungan erat antara utang dan kewajiban untuk melayani pemberi utang dengan cara apapun yang dianggap pantas. Banyak hal yang bisa dilakukan misalnya saja dengan menjual diri dan menghamba berdasarkan hukum, penjualan atau pemberi harga diri , atau menjudikan diri sendiri ke dalam perhambaan. Kebanyakan ganjaran hukum dijatuhkan dalam bentuk uang. Pada zaman normal, utang tentunya merupakan sumber paling penting terjadinya hubungan perhambaan di Asia Tenggara. Namun, dalam sistem Asia Tenggara kewajiban dan kesetiaan lebih pokok ketimbang status sebagai harta milik.
https://forum.mobilelegends.com/home.php?mod=space&uid=516261&do=profile

C.Tawanan Perang

Tawanan perang atau orang yang diperoleh dari ekspedisi penaklukan biasanya diperbudak. Dalam praktiknya pampasan perang berbeda dengan posisi budak dalam setiap masyarakat baik di Asia Tenggara maupun Eropa atau dunia muslim. Pada masa kejayaan Angkor abad ke-13, sebagian besar penduduk tampaknya pernah menjadi budak tawanan. Kebanyakan tawanan perang secara kultural lebih dekat dengan pihak yang menangkap mereka. Sehingga dalam waktu satu sampai dua generasi mereka pun bisa menggunakan bahasa, memeluk agama, dan menjalankan gaya hidup yang sama dengan penduduk dominan.
https://twinoid.com/user/9830123

D.Budak Perkotaan

Dalam lingkup perniagaan kosmopolitan, asumsi budaya bahwa utang menyertakan kewajiban tidaklah memadai. Budak merupakan satu-satunya barang berharga paling penting. Untuk itu perlu adanya hukum yang melindungi para budak. Menurut Perry Anderson titik balik budaya perkotaan klasik juga menjadi saksi titik nadir perbudakan, dan merosotnya budaya perkotaan baik di Yunani maupun Romawi yang Kristen hampir selalu diikuti dengan berkurangnnya perbudakan. Begitu pula di Asia Tenggara, perbudakan menjadi puncak tertinggi perkembangan perkotaan yang berorientasi komersial.
https://funnypictures333.kroogi.com/?locale=en

Budak Milik Orang Eropa

Asia Tenggara merupakan bukti terpenting tentang bagaimana kolonis-kolonis Eropa mengambil-alih dan berinteraksi dengan sistem perbudakan. Orang-orang Eropa menghadapi sejenis tenaga kerja terikat di kota-kota Asia Tenggara yang mereka sebut budak. Orang-orang Eropa melihat bahwa kebanyakan budak diperlakukan sama seperti pelayan di Eropa, bahkan kadang-kadang lebih baik. Pada sistem perkotaan di Asia Tenggara, dimana-mana budak diberi makanan dan pakaian yang memadai. Namun, di Banten pada masa prakolonial sebuah sumber melaporkan bahwa majikan dapat menghukum mati budak-budak mereka. Sebagaimana pola Asia Tenggara, kegunaan utama budak-budak milik orang Eropa adalah dalam urusan kerja rumah tangga.
https://www.ioby.org/users/funnypictures333339649

Bagi orang Belanda, perbudakaan adalah alat untuk mendapatkan tenaga kerja kasar secara cepat di dalam lingkup perkotaan, dan utmanya generasi pertama budak ditempatkan pada posisi paling rendah. Namun, orang-orang Belanda dan Inggris berbeda dibanding para pemilik budak di perkotaan Asia Tenggara. Mereka menjaga jarak sosial dengan budak mereka. Budak mereka memang menjadi bagian dari penduduk perkotaan atau populasi sub-perkotaan , namun tidak masuk ke dalam kasta kulit putih yang berkuasa. Dengan kata lain, perbudakan di koloni-koloni Eropa lebih benyak berpedoman pada lingkungan Asia Tenggara ketimbanag pada gagasan hukum Eropa.
http://www.acapela.tv/en/my-account/show/eudora1/

Hamba Kerajaan, Budak Pribadi

Budak merupakan sebuah kata yang sering disalahgunakan. Perbudakan baru terjadi apabila ada kemungkinan si budak dijual atau diambilalih oleh pihak lain. Bagi kebanyakan orang dalam masyarakat itu terdiri dari tiga pilihan. Yaitu : mengabdi kepada raja melalui system corvee, mengabdi kepada kuil, mengabdi kepada “pribadi” atau menjadi budak orang kaya. Sistem perbudakan “pribadi” dalam lingkup Asia Tenggara dibatasi oleh pusat kekuasaan. Tidak mengherankan jika perbudakan terlihat amat menonjol ketika kekuasaan itu tersebar.

Kebebasan dan Perbudakan

Konsep kebebasan pribadi menurut M.I. Finley dan Perry A. adalah antithesis perbudakan hanya bisa muncul dalam situasi dimana bentuk lain dari penghambaan dimasukan ke dalam kategori budak dengan garis batas yang jelas. Di Yunani perbudakkan merupakan suatu kategori harta bergerak milik pribadi. Sedangkan kebebasan pribadi sebagai status yang dijamin oleh hukum. Dalam kitab-kitab melayu sering merujuk kejahatan baik yang dilakukan oleh orang merdeka maupun budak. Dari sanalah aturan hukum disusun untuk memerdekakan budak.
https://trackandfieldnews.com/discussion/member.php?203286-sejarah1

Kehidupan Para Budak

Para budak dilaporkan menjalankan semua jenis pekerjaan, sebagai pekerja bangunan, nelayan, pelaut, saudagar, maupun pembantu rumah tangga. Bahkan budak sering disuruh menggarap sebidang tanah. Di Sulawesi Selatan, khususnya di Selayar dan Bali dijadikan tempat akumulasi budak terbesar karena daerah tersebut banyak mengekspor tekstil. Peran budak yang tampak mencolok adalah pekerjaan rumah tangga dan penghibur.

Peran domestic para budak tampak dominan pada abad ke-18 dan ke-19. Kehidupan budak disini mungkin leb ih mudah dan lebih aman dalam arti fisik. Dan pada abad ke-19 di Siam dilaporkan memperlakukan budak-budak secara baik atau bahkan lebih baik daripada perlakuan terhadap pelayan-pelayan di Eropa. Selain itu, budak terkadang juga dikorbankan sebagai perlengkapan beberapa kebutuhan ritual seperti upacara penguburan seorang kepala suku.
https://freedomsponsors.org/user/sumber1/

Pergundikan

Pada abad ke-19, dilaporkan bahwa orang Eropa melakukan perdagangan perempuan muda Asia Tenggara. Di Eropa perdagangan ini berlangsung secara besar-besaran bahkan disebut pula pasar perkawinan. Pemanfaatan para gundik atau perempuan-perempuan di istana di dunia Melayu untuk layanan yang diberikan dan ikatan saling menguntungkan dengan orang luar kerap disalahartikan oleh orang Eropa Mereka menganggap bahwa ini merupakan suatu bentuk pelacuran. Namun, di sini ditegaskan bahwa kalau pelacuran bersifat murni komersial, sedangkan perempuan hamba-sahaya hanya digunakan untuk menarik pelayan laki-laki.
http://www.inmethod.com/forum/user/profile/133058.page

Perdagangan Budak

Sebelum adanya surat perjanjian kerja yang berkembang pada abad ke-19, pergerakan orang tawanan dan budak merupakan sumber utama dari mobilitas tenaga kerja di Asia Tenggara. Sutherland memperlihatkan bahwa kaum budak merupakan mayoritas penduduk Makasar-Belanda pada abad ke-17 dan ke-18. Pada abad ke-16, Menurut Tome Pires kota Malaka, Siam, Brunai merupakan pengimpor budak terbesar. Hal ini dikaitkan dengan islamisasi. Uraian Speelman mengenai perdagangan Makasar pada pertengahan abad ke-17 dapat digabungkan dengan sumber lain untuk memperlihatkan perubahan. Sulu dan Magindanao masa itu mengawali sejarah sebagai pusat utama perampasan dan pembagian kembali kaum budak. Kemudian perdagangan budak akhir abad ke-18, Sulu dan Batavia mendominasi perdagangan budak di Nusantara.
http://balmound1.mobie.in/sumber%20sejarah%20indonesia

“Penghapuasan” Perbudakan

Kemunduran perbudakan sebagai suatu pranata sedikit berhubungan dengan tumbuhnya kesadaran moral. Ada dua faktor yang kelihatannya sebagai penyebab kemunduran perbudakan. Yaitu Negara semakin mengendalikan seluruh rakyat dan yang kedua adalah pertambahan jumlah buruh-tani tunakisma miskin yang membuat kerja upahan dan sistem eksploitasi menjadi lebih murah. Pemerintah Eropa mulai menentang perbudakan pada permulaan abad ke-19. Satu-satunya perekonomian di Asia Tenggara yang mengalami kesulitan serius akibat pelanggaran tersebut adalah perkeniers perkebunan pala Banda.

Belanda tidak menganggap perbudakan sebagai suatu kegiatan illegal di koloni-koloninya sampai dengan tahun 1860. Baru pada tahun 1910 Belanda berusaha untuk menindas perbudakan di Batak. Selain Belanda Siam juga mengilegalkan perbudakan secara bertahap antara 1874 dan 1905. Namun penghapusan perbudakan secara berangsur-angsur ini bukan berarti pasar bebas kerja upahan sudah berjalan di Asia Tenggara.

Category: Sejarah  | Tags:  | Comments off